BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sebelum insulin ditemukan pada awal tahun 1920-an, diabetes dan
kehamilan sangat tidak berhubungan. Banyak wanita diabetik pada masa usia subur
tidak fertil atau steril dan sebagian besar dari mereka yang hamil tidak mampu
mengandung sampai usia kehamilan cukup bulan. Angka mortalitas maternal dan
perinatal mencapai 50%, dengan lahir mati sebagai penyebab utama kematian
perinatal (Gabbe, 1992).
Selama 70 tahun terakhir, pemahaman dan penatalaksanaan kehamilan
diabetik meningkat dengan luar biasa. Kemajuan dalam perawatan ini menghasilkan
perubahan yang substansial dalam hasil akhir maternal dan perinatal yang
dicapai. Mortalitas maternal dewasa ini mendekati angka 0,5%. Namun, angka ini
lima kali angka mortalitas pada wanita bukan diabetik (Meyer, Plamer, 1990).
Angka mortalitas perinatal menurun sampai kurang dari 5%, jika dibanding angka
1% sampai 2% pada kehamilan-bukan diabetik (CDC, 1990). Pada kasus-kasus yang
ditangani dengan baik, angka mortalitas maternal dan perinatal sama dengan
angka mortalitas pada penduduk bukan-diabetik.
Terlepas dari kemajuan yang dicapai dalam perawatan, kehamilan yang
disertai diabetes masih dipertimbangkan sebagai kondisi berisiko tinggi.
Kondisi ini mencapai tingkat keberhasilan tertinggi jika ditangani dengan
pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli kebidanan, ahli endrokinologi,
ahli neonatologi, perawat, ahli nutrisi, dan pekerja sosial. Untuk mencapai
hasil akhir yang baik pada kasus kehamilan diabetik, dibutuhkan komitmen dan
partisipasi aktif wanita. Ia harus mematuhi jadwal kunjungan prenatal yang
sering, mematuhi program diet dengan ketat, melakukan dengan mandiri pemantauan
kadar glukosa secara teratur, melakukan pemeriksaan laboratorium dengan sering,
melaksanakan surveilen janin secara intensif, dan mempersiapkan diri untuk
menghadapi kemungkinan hospitalisasi.
Perawat, yang memberikan asuhan kepada wanita diabetik yang sedang
hamil harus memiliki pemahaman yang benar tentang respons fisiologis normal
terhadap kehamilan dan perubahan metabolisme akibat diabetes. Lebih jauh lagi,
perawat harus memahami hubungan antara kehamilan dan diabetes sehingga perawat
dapat dengan akurat mengkaji wanita, menyusun rencana untuk perawatannya, dan
melakukan intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya. Perawat harus mengetahui
implikasi-implikasi psikososial kehamilan diabetik sehingga ia dapat
mengarahkan wanita dalam merencanakan, mengimplementasi, dan mengevaluasi
perawatan wanita dan keluarganya.
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Apa
definisi dari diabetes melitus gestasional?
2.
Bagaimana
etiologi dari diabetes melitus gestasional?
3.
Apa
saja tanda dan gejala dari diabetes melitus gestasional?
4.
Bagaimana
patofiologi Nursing Pathway diabetes melitus gestasional?
5.
Apa
saja klasifikasi diabetes melitus gestasional?
6.
Apa
saja pengaruh diabetes melitus terhadap kehamilan?
7.
Apa resiko
dan komplikasi pada ibu yang terkena diabetes melitus?
8.
Bagaimana
konsep asuhan keperawatan pada ibu hamil yang terkena diabetes melitus?
1.3
Tujuan
masalah
Setelah
mengikuti perkuliahan ini diharapkan para mahasiswa mampu:
1.
Memahami
definisi dari diabetes melitus gestasional.
2.
Mengetahui
dan memahami etiologi dari diabetes melitus gestasional.
3.
Mengetahui
tanda dan gejala dari diabetes melitus gestasional.
4.
Memahami
patofiologi Nursing Pathway diabetes melitus gestasional.
5.
Mengetahui
saja klasifikasi diabetes melitus gestasional.
6.
Mengerti
pengaruh diabetes melitus terhadap kehamilan.
7.
Mengerti
tentang resiko dan komplikasi pada ibu yang terkena diabetes melitus.
8.
Bisa
membuat konsep asuhan keperawatan pada ibu hamil yang terkena diabetes melitus.
BAB II
KONSEP DASAR
2.1
Definisi Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa
darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan
hiperglikemia. DM merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai. Yang
paling sering terjadi yaitu: diabetes melitus yang diketahui sewaktu hamil yang
disebut DM gestasional dan DM yang telah terjadi sebelum hamil yang dinamankan
DM pragstasi. Diabetes melitus merupakan ganguan
sistemik pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak.Diabetes mellitus
ditandai dengan hiperglikemia atau peningkatan glukosa darah yang diakibatkan
produksi insulin yang tidak adekuat atau penggunaan insulin secara tidak
efektif pada tingkat seluler.(Bobak. Lowdermilk, Jensen.2004. Edisi 4 hal
699).
Diabetes
melitus gestasional (gestational diabetes mellitus (GDM)) didefinisikan
sebagai “intoleransi karbohidrat dengan berbagai tingkat keparahan, yang
awitannya atau pertama kali dikenali selama masa hamil saat ini” (ADA,1990).
Walaupun GDM umumnya hilang pada akhir kehamilan, ada kemungkinan besar GDM
terjadi lagi pada kehamilan berikutnya (Jovanovic-Peterson, Peterson, 1992;
Philipson, Super, 1989). GDM dialami oleh sekitar 2% sampai 6% seluruh wanita
hamil dan bertanggung jawab terhadap 90%
kasus diabetes selama masa hamil (Radak, 1991; Siddiq, 1989). Faktor-faktor
risiko klasik diabetes gestasional mencakup obesitas, riwayat diabetes dan dan
makrosomia keluarga, dan riwayat obstetri yang buruk sebelumnya
(Jovanovic-Peterson, Peterson, 1992).
Diagnosis
GDM biasanya ditegakkan pada pertengahan semester kedua masa hamil. Seiring
dengan peningkatan kebutuhan nutrisi janin selama trimester ketiga dan
trimester kedua tahap lanjut, asupan nutrisi maternal juga meningkatkan kadar
glukosa darah. Pada saat yang sama resistansi insulin juga meningkat akibat
efek antagonis insulin pada hormon plasenta, kortisol, dan insulinase.
Akibatnya, kebutuhan insulin maternal meningkat tiga kali lipat.Sebagian besar
wanita hamil mampu meningkatkan produksi insulin untuk mengompensasi resistansi
insulin dan mempertahankan normoglikemia.Apabila pankreas tidak mampu
memproduksi insulin yang cukup atau jika insulin thdak digunakan dengan
efektif, GDM dapat terjadi (Dickinson, Palmer, 1990).
2.2
Etiologi Diabetes Melitus
Gestasional
Etiologi Diabetes Melitus menurut Kapita Selekta Jilid
III, 2006, Yaitu :
1.
Faktor autoimun setelah
infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4.
2.
Genetik
Diabetes mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada
anak. Gen penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya
menderita diabetes mellitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya bahkan
cicit walaupun resikonya sangat kecil.
Secara klinis, penyakit diabetes melitus awalnya didominasi oleh resistensi insulin yang disertai
defect fungsi sekresi. Tetapi, pada tahap yang lebih lanjut, hal itu didominasi
defect fungsi sekresi yang disertai dengan resistensi insulin. Kaitannya dengan
mutasi DNA mitokondria yakni karena proses produksi hormon insulin sangat erat
kaitannya dengan mekanisme proses oxidative phosphorylation (OXPHOS) di dalam
sel beta pankreas. Penderita diabetes melitus proses
pengeluaran insulin dalam tubuhnya mengalami gangguan sebagai akibat dari
peningkatan kadar glukosa darah. Mitokondria menghasilkan adenosin trifosfat (ATP).
Pada penderita diabetes
melitus, ATP yang dihasilkan dari proses
OXPHOS ini mengalami peningkatan. Peningkatan kadar ATP tersebut otomatis
menyebabkan peningkatan beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam ATP.
Peningkatan tersebut antara lain yang memicu tercetusnya proses pengeluaran
hormon insulin. Berbagai mutasi yang menyebabkan diabetes melitus telah dapat diidentifikasi.Kalangan klinis menyebutnya
sebagai mutasi A3243G yang merupakan mutasi kausal pada diabetes melitus. Mutasi ini terletak pada gen penyandi ribo nucleid acid
(RNA). Pada perkembangannya, terkadang para penderita diabetes melitus menderita penyakit lainnya sebagai akibat menderita diabetes melitus. Penyakit yang menyertai itu antara lain tuli sensoris,
epilepsi, dan stroke like episode. Hal itu telah diidentifikasi sebagai akibat
dari mutasi DNA pada mitokondria. Hal ini terjadi karena makin tinggi proporsi
sel mutan pada sel beta pankreas maka fungsi OXPHOS akan makin rendah dan
defect fungsi sekresi makin berat.
Prevalensi mutasi tersebut biasanya akan meningkat
jumlahnya bila penderita diabetes melitus itu menderita penyakit
penyerta tadi.
·
Kerusakan / kelainan
pangkreas sehingga Kekurangan produksi insulin
Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas juga dapat
menyebabkan radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi pankreas
turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh
termasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol tinggi dan dislipidemia dapat
meningkatkan resiko terkema diabetes mellitus.
·
Meningkatnya hormon
antiinsulin seperti GH, glukogen, ACTH, kortisol, dan epineprin.
·
Obat-obatan.
Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang
menyebabkan radang pankreas, radang pada pankreas akan mengakibatkan fungsi
pankreas menurun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses
metabolisme tubuh termasuk insulin. Segala jenis residu obat yang terakumulasi
dalam waktu yang lama dapat mengiritasi pankreas.Contohnya Minum soda dalam
keadaan perut kososng (misalnya stelah berpuasa atau waktu bangun tidur dipagi
hari) juga harus dihindari. Sirup dengan kadar fruktosa tinggi, soda, dan pemanis
buatan yang terdapat dalam minuman soda dapat merusak pangkreas yang
menyebabkan meningkatnya berat badan, jika kebiasaan ini diteruskan, lama
kelamaan akan menderita penyakit diabetes melitus.
Penelitian membuktikan bahwa perempuan yang mengkonsumsi soda lebih dari 1
kaleng per hari memiliki resiko 2 kali terkena diabeters tipe 2 dalam jangka
waktu 4 tahun kedepannya.
·
Wanita obesitas
Sebenarnya diabetes melitus bisa
menjadi penyebab ataupun akibat. Sebagai penyebab, obesitas menyebabkan sel
beta pankreas penghasil insulin hipertropi yang pada gilirannya akan kelelahan
dan “jebol” sehingga insulin menjadi kurang prodeksinya dan terjadilah diabetes melitus. Sebagai akibat biasanya akibat penggunaan insulin sebagai
terapi diabetes
melitus berlebihan menyebabkan penimbunan
lemak subkutan yang berlebihan pula.
2.3
Tanda
dan Gejala Diabetes Melitus Gestasional
1. Polyuria(banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena
kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap
glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan
dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
2. Polydipsi(banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran
terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi
klien lebih banyak minum.
3. Polyphagia (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena
glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk
memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap
saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
4. Penurunan
berat badan, Kesemutan, gatal, Pandangan kabur, Pruritus vulvae pada wanita, Lemas,
lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan
glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat
peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena
tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan
yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga
klien dengan diabetes melitus
walaupun banyak makan akan tetap kurus.
2.5 Klasifikasi Diabetes Melitus Gestasional
Pada Diabetes Mellitus Gestasional, ada 2 kemungkinan yang dialami oleh
si Ibu:
1.
Ibu tersebut memang telah menderita diabetes melitus sejak sebelum hamil
2.
Si ibu mengalami/menderita diabetes melitus saat hamil
Klasifikasi diabetes melitus
dengan Kehamilan menurut Pyke:
1.
Klas I :Gestasional diabetes, yaitu diabetes
yang timbul pada waktu hamil dan menghilang setelah melahirkan.
2.
Klas II :Pregestasional diabetes, yaitu
diabetes mulai sejak sebelum hamil dan berlanjut setelah hamil.
3.
Klas III : Pregestasional diabetes yang
disertai dengan komplikasi penyakit pembuluh darah seperti retinopati,
nefropati, penyakit pemburuh darah panggul dan pembuluh darah perifer, 90% dari
wanita hamil yang menderita Diabetes termasuk ke dalam kategori diabetes melitusgestasional (Tipe II).
2.6 Pengaruh Diabetes Melitus Terhadah Kehamilan
1. Pengaruh
kehamilan, persalinan dan nifas terhadap diabetes melitus
1.
Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi
manifes (diabetik).
2.
Diabetes
melitus akan menjadi lebih berat karena kehamilan
2.
Pengaruh diabetes gestasional terhadap kehamilan di
antaranya adalah :
1.
Abortus dan partus prematurus
2.
Hidronion
3.
Pre-eklamasi
4.
Kesalahan letak jantung
5.
Insufisiensi plasenta
3.
Pengaruh penyakit terhadap persalinan
1.
Gangguan kontraksi otot rahim (partus lama /
terlantar).
2.
Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi.
3.
Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi
asfiksia sampai dengan lahir mati
4.
Perdarahan postpartum karena gangguan kontraksi otot
rahim.
5.
Postpartum mudah terjadi infeksi.
6.
Bayi mengalami hypoglicemi postpartum sehingga dapat
menimbulkan kematian
4.
Pengaruh diabetes
melitus terhadap kala nifas
1.
Mudah terjadi infeksi postpartum
2.
Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah
menyebar
5.
Pengaruh diabetes
melitus terhadap bayi
1.
Abortus, prematur, > usia kandungan 36 minggu
2.
Janin besar ( makrosomia )
3.
Dapat terjadi cacat bawaan, potensial penyakit saraf
dan jiwa
2.7 Resiko dan Komplikasi Diabetes Melitus Pada
Ibu
a.
Komplikasi pada Ibu
1.
Aborsi
spontan terjadi lebih
sering diantara wanita diabetik dan aborsi ini berhubungan dengan kontrol
glikemia yang buruk pada saat konsepsi dan pada minggu-minggu awal kehamilan
(Combs, Kitzmiller, 1991; Rosenn, dkk, 1991).
2.
Hipertensi
akibat kehamilan (pregnancy-induced hypertension [PIH] atau preeklamsia terjadi dua kali
lebih sering selama masa hamil diabetik.
3.
Hidramnion (polihidramnion), suatu kelebihan cairan
amniotik sebesar 2000 ml, terjadi sekitar 10 kali lebih sering dalam kehamilan
diabetik daripada dalam kehamilan bukan-diabetik.
4.
Ketoasidosis dapat mengancam kehidupan ibu dan janin.
5.
Hipoglikemia, terjadi pada enam bulan pertama
kehamilan
6.
Hiperglikemia, terjadi pada kehamilan 20-30
minggu akibat resistensi insulin
7.
Infeksi saluran kemih
8.
Retinopati
9.
Trauma persalinan akibat bayi besar
b.
Masalah pada anak :
1.
Abortus
2.
Kelainan kongenital seperti sacral agenesis, neural tube
defek
3.
Respiratory distress
4.
Neonatal hiperglikemia
5.
Makrosomia
6.
Hipocalsemia
7.
Kematian perinatal akibat diabetik ketoasidosis
8.
Hiperbilirubinemia
·
Tanda terjadi komplikasi pada diabetes melitus gestasional
1.
Makrovaskular: stroke, penyakit jantung koroner,ulkus/
gangren.
2.
Mikrovaskular: retina (retinopati) dan ginjal (gagal
ginjal kronik), syaraf (stroke,neuropati).
3. Koma:
hiperglikemi, hipoglikemi, stroke
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
1.
Anamnesis
a.
Keluhan utama.
Mual, muntah, penambahan berat badan berlebihan atau tidak
adekuat, polipdipsi, poliphagi, poluri, nyeri tekan abdomen dan retinopati.
b.
Riwayat kesehatan
keluarga.
Riwayat diabetes mellitus dalam keluarga.
c.
Riwayat kehamilan
·
Diabetes mellitus
gestasional.
·
Hipertensi karena
kehamilan.
·
Infertilitas.
·
Bayi low gestasional
age.
·
Riwayat kematian
janin.
·
Lahir mati tanpa sebab
jelas.
·
Anomali congenital.
·
Aborsi spontan.
·
Polihidramnion.
·
Makrosomia.
·
Pernah keracunan
selama kehamilan.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Sirkulasi
·
Nadi
pedalis dan pengisian kapiler ekstrimitas menurun atau lambat pada diabetes
yang lama.
·
Edema pada
pergelangan kaki atau tungkai.
·
Peningkatan
tekanan darah.
·
Nadi cepat,
pucat, diaforesis atau hipoglikemi.
b. Eliminasi
·
Riwayat
pielonefritis, infeksi saluran kencing berulang, nefropati dan poli uri.
c. Nutrisi dan Cairan
·
Polidipsi.
·
Poliuri.
·
Mual dan
muntah.
·
Obesitas.
·
Nyeri tekan
abdomen.
·
Hipoglikemi.
·
Glukosuria.
·
Ketonuria.
·
Kulit.
·
Sensasi
kulit lengan, paha, pantat dan perut dapat berubah karena ada bekas injeksi
insulin yang sering.
·
Mata.
·
Kerusakan
penglihatan atau retinopati.
·
Uterus.
·
Tinggi
fundus uteri mungkin lebih tinggi atau lebih rendah dari normal terhadap usia
gestasi.
3. Psikososial
·
Resiko
meningkatnya komplikasi karena faktor sosioekonomi rendah.
·
Sistem
pendukung kurang dapat mempengaruhi kontrol emosi.
·
Cemas, peka
rangsang dan peningkatan ketegangan.
3.2 Diagnosa Keperawatan
1.
Resiko
tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna/menggunakan nutrien
dengan tepat.
2.
Resiko
tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa
maternal, perubahan pada sirkulasi.
3.
Resiko
tinggi terhadap cedera maternal berhubungan dengan perubahan pada kontrol diabetik,
profil darah abnormal/anemia, hipoksia jaringan, perubahan respons umum.
4.
Kurang
pengetahuan tentang kondisi diabetik, prognosis, dan kebutuhan tindakan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi, kesalahan
informasi, kurang mengingat, tidak mengenal sumber informasi.
3.3 Rencana Asuhan
Keperawatan
·
Diagnosa Keperawatan
1
Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan ketidakmampuan mencerna/menggunakan
nutrien dengan tepat.
Tujuan dan
kriteria hasil:
·
meningkatkan
24-30 lb pada masa pranatal, atau yang tepat untuk berat badan sebelum
kehamilan.
·
Mempertahankan
glukosa darah puasa (FBS) antara 60-100 mg/dl, dan 1 jam postprandial tidak
lebih dari 140 mg/dl.
Intervensi
Keperawatan
Tindakan mandiri
1. Timbang berat badan klien setiap kunjungan pranatal. Anjurkan
klien untuk memantau berat badan secara periodik di rumah antara kunjungan.
R/: penambahan berat badan adalah kunci penunjuk untuk memutuskan
penyesuaian kalori.
2. Kaji masukan kalori dan pola makan dalam 24 jam
R/: membantu dalam mengevaluasi pemahaman klien tentang dan/atau
mentaati aturan diet.
3. tinjau ulang pentingnya makan dan kudapan yang teratur bila menggunakan
insulin
R/: makan sedikit dan sering menghindari hiperglikemia
postprandial dan ketosis puasa/kelaparan.
4. Kaji pemahaman tentang efek stres pada diabetes. Berikan informasi
tentang penatalaksanaan stres dan relaksasi.
R/: stres dapat meningkatkan kadar glukosa, menciptakan fluktuasi
kebutuhan insulin.
Tindakan kolaborasi
5. Rujuk pada ahli diet terdaftar pada diet individu dan konseling
pertanyaan mengenai diet.
R/: diet spesifik pada individu perlu untuk mempertahankan
normoglikemia dan untuk mendapatkan penambahan berat badan yang diinginkan.
Pada penyuluhan mendalam menigkatkan pemahaman tentang kebutuhan sendiri dan mengklarifikasin
kesalahan konsep, khususnya untuk klien dengan DMG.
·
Diagnosa Keperawatan 2
Resiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan peningkatan
kadar glukosa maternal, perubahan pada sirkulasi.
Tujuan dan
kriteria hasil
·
menunjukkan
reaksi NST secara normal dan “oxytocin challenger test” (OCT) negatif dan/atau
tes stres kontraksi (CST).
·
Mengalami
term-penuh, dengan ukuran tepat terhadap usia gestasional.
Intervensi Keperawatan
Tindakan mandiri
1. Kaji kontrol diabetik klien sebelum konsepsi
R/: kontrol ketat (kadar HbAlc normal) sebelum konsepsi
membantu menurunkan resiko mortalitas janin dan anomali kongenital.
2. Pantau tinggi fundus setiap kunjungan
R/: bermanfaat untuk mengidentifikasi pola pertumbuhan abnormal
(makrosomia atau IUGR, kecil atau besar terhadap usia gestasi [SGA/LGA]).
3. Berikan informasi tentang efek diabetes yang mungkin pada
pertumbuhan dan perkembangan janin.
R/: pengetahuan membantu klien membuat keputusan tentang
melaksanakan aturan dapat meningkatkan kerja sama.
4. Tinjau ulang prosedur dan rasional untuk NST setiap minggu setelah
gestasi minggu ke-30, NST dua kali seminggu setelah gestasi minggu ke-36.
R/: aktivitas dan gerakan janin merupakan pertanda baik dari
kesejahteraan janin. Tingkat aktivitas menurun sebelum terjadi perubahan pada
DJJ.
Tindakan kolaborasi
5. Siapkan untuk ultrasonografi pada gestasi minngu ke-8, ke-12,
ke-18, ke-28, dan ke-36 sampai ke-38 sesuai indikasi
R/: ultrasonografi bermanfaat dalam memastikan tenggal gestasi dan
membantu mengevaluasi IUGR.
6. Lakukan NST dan OCT/CST dengan tepat
R/: mengkaji kesejahteraan janin dan keadekuatan perfusi plasenta.
7. Bantu dengan persiapan kelahiran janin per vagina atau melalui
pembedahan bila hasil tes menandakan penuaan dan insufisiensi plasenta
R/: membantu menjamin hasil positif untuk neonatus. Insiden lahir
mati meningkat secara bermakna pada gestasi lebih dari minggu ke-36. Makrosomia
sering menyebabkan distosia dengan sefalopelvis disproporsi (CPD).
·
Diagnosa keperawatan 3
Resiko tinggi terhadap cedera maternal berhubungan dengan perubahan
pada kontrol diabetik, profil darah abnormal/anemia, hipoksia jaringan, perubahan
respons umum.
Tujuan dan kriteria
hasil
·
mempertahankan
normoglikemi, tetap normotensif
·
bebas dari
komplikasi (mis., infeksi, pemisahan plasenta)
Intervensi
Keperawatan
Tindakan mandiri
1. kaji klien terhadap perdarahan vagina dan nyeri tekan abdomen
R/: perubahan vaskular yang dihubungkan dengan diabetes
menempatkan klien pada risiko abrupsi plasenta.
2. Pantau terhadap tanda dan gejala persalinan praterm
R/: distensi uterus berlebihan karena makrosomia atau hidramnion
dapat mempredisposisikan klien pada persalinan awal.
3. Minta klien memeriksa keton dalam urin setiap hari pada saat
bangun dan bila jadwal masukan makanan terlambat
R/: ketonuria menandakan adanya kondisi kelaparan yang secara
negatif dapat mempengaruhi perkembangan janin.
4. Kaji dan tinjau ulang tanda dan gejala ISK pada klien
R/: deteksi awal ISK dapat mencegah pielonefritis, yang dianggap
memperberat persalinan prematur.
Tindakan kolaborasi
5. Pantau kadar glukosa serum setiap kunjungan
R/: mendeteksi ancaman ketoasidosis; menentukan waktu dalam sehari
di mana klien cenderung hiplogikemia
6. Kaji Hb/Ht pada kunjungan awal, kemudian selama trimester kedua
dan pada term
R/: anemia mungkin ada pada klien dengan masalah vaskular
7. Mulai terapi I. V. Dengan dekstrosa 5%; berikan glukagon S.C. bila
klien dirawat di rumah sakit dengan syok insulin dan tidak sabar. Ikuti dengan
pemberian susu skim dengan 8 oz bila klien mampu menelan
R/: glukagon adalah substansi alamiah yang bekerja pada glikogen
hepar dan mengubahnya menjadi glukosa, yang memperbaiki status hipoglikemik.
(catatan: glikosa hipertonik *(D50) diberikan I.V. dapat menunjukkan efek-efek
negatif pada jaringan otak janin karena kerja hipertoniknya. Protein membantu
mempertahankan normoglikemi melebihi periode waktu yang panjang).
·
Diagnosa Keperawatan
4
Kurang pengetahuan
tentang kondisi diabetik, prognosis, dan kebutuhan tindakan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi, kesalahan informasi, kurang
mengingat, tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan dan
kriteria hasil:
·
Berpatisipasi
dalam penatalaksanakan diabetes selama masa kehamilan.
·
Mengungkapkan
pemahaman tentang prosedur, tes laboratorium, dan aktivitas yang melibatkan
pengontrolan diabetes.
·
Mendemonstrasikan
kemahiran memantau sendiri dan pemberian insulin.
Intervensi
Keperawatan
Tindakan mandiri
1. Kaji pengetahuan tentang proses dan tindakan terhadap penyakit
dari klien/pasangan, termasuk hubungan antara diet, latihan, penyakit, stres,
dan kebutuhan insulin
R/: klien dengan diabetes sebelumnya atau DMG berisiko terhadap
ambilan glukosa yang tidak efektif dalam sel, penggunaan lemak/protein untuk
energi secara berlebihan, dan dehidrasi selular saat air dialirkan dari sel
oleh konsentrasi hipertonik glukosa dalam serum. Kehamilan mengubah kebutuhan
insulin secara drastis dan memerlukan kontrol yang lebih ketat. Kontrol
diabetes tergantung pasa klien/pasangan yang berperan aktif.
2. Berikan informasi tentang cara kerja dan efek merugikan dari
insulin. Bantu klien untuk belajar melakukan pemberian injeksi, pompa insulin,
atau sprei nasal (teknik pengalaman) sesuai indikasi
R/: perubahan metabolik pranatal menyebabkan kebutuhan insulin
berubah. Pada trimester pertama, kebutuhan insulin rendah, tetapi menjadi dua
kali dan kemudian empat kali lipat selama trimester kedua dan ketiga.
3. Jelaskan penambahan berat badan normal pada klien. Anjurkan klien
memantau penambahan berat badannya sendiri dirumah diantara waktu kunjungan.
Penambahan total pada trimester pertama harus 2,5-4,5 lb [1,1-2 kg] kemudian
0,8-0,9 lb/mgg [360-400 g/mgg] setelahnya
R/: pembahasan kalori dengan akibat ketonomia dapat menyebabkan
kerusakan janin dan menghambat penggunaan protein optimal.
4. Berikan informasi mengenai dampak kehamilan pada kondisi diabetik
dan harapan masa datang.
R/: peningkatan pengetahuan dapat menurunkan rasa takut tentang
ketidaktahuan, meningkatkan kemungkinan kerja sama, dan dapat membantu
menurunkan komplikasi janin/maternal. Kira-kira 70% klien yang diagnosis DMG
akan mengalami NIDDM dalam 15 tahun.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Diabetes melitus yang
terj`di dan diketahuinya saat hamil, maka ini dinamakan dengan Diabetes melitus
gestasional, sedangkan bila Diabetes melitus telah diketahui sebelum hamil,
maka dinamakan Diabetes melitus pregestasi. Diabetes melitus yang terjadi pada
ibu hamil dan diketahui saat hamil kemudian akan pulih kembali 6 minggu pasca
persalinan, maka ini dinamakan Diabetes melitus gestasional, namun apabila
setelah 6 minggu persalinan Diabetes melitus belum juga sembuh, maka ini
bukannya diabetes Gestasional, tetapi Diabetes melitus. Dm gstasional perlu
penanganan yang serius, karena dapat mempengaruhi perkembangan janin, dan dapat
mengancam kehidupan janin kedepannya. sehingga perlu diberikan asuhan
keperawatan secara professional terhadap ibu hamil dengan Diabetes melitus,
supaya tidak lagi terjadi berbagai komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan
4.2 Saran
Penulis berharap dengan
makalah ini, semoga mahasiswa dapat mengerti bagaimana asuhan keperawatan pada
ibu hamil dengan Diabetes melitus, dan paham bagaimana patofiologi yang terjadi
pada ibu hamil yang mengalami Diabetes melitus. sehingga bisa berpikir kritis
dalam melakukan tindakan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer dkk. Kapita
Selekta Kedokteran Jilid 1, 2001, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta.
Bobak, Lowdermik,
Jensen. 2005. Buku ajar keperawatan
maternitas edisi 4. EGC : Jakarta.
Doenges, E. Marilynn, Mary Frances Moorhouse.
2001. Rencana Perwatan Maternal / Bayi,
Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien edisi 4. Alih
Bahasa, Monica Ester, S.Kp. Jakarta : EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar