Rabu, 02 Januari 2013

diabetes militus gravidarum



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sebelum insulin ditemukan pada awal tahun 1920-an, diabetes dan kehamilan sangat tidak berhubungan. Banyak wanita diabetik pada masa usia subur tidak fertil atau steril dan sebagian besar dari mereka yang hamil tidak mampu mengandung sampai usia kehamilan cukup bulan. Angka mortalitas maternal dan perinatal mencapai 50%, dengan lahir mati sebagai penyebab utama kematian perinatal (Gabbe, 1992).
Selama 70 tahun terakhir, pemahaman dan penatalaksanaan kehamilan diabetik meningkat dengan luar biasa. Kemajuan dalam perawatan ini menghasilkan perubahan yang substansial dalam hasil akhir maternal dan perinatal yang dicapai. Mortalitas maternal dewasa ini mendekati angka 0,5%. Namun, angka ini lima kali angka mortalitas pada wanita bukan diabetik (Meyer, Plamer, 1990). Angka mortalitas perinatal menurun sampai kurang dari 5%, jika dibanding angka 1% sampai 2% pada kehamilan-bukan diabetik (CDC, 1990). Pada kasus-kasus yang ditangani dengan baik, angka mortalitas maternal dan perinatal sama dengan angka mortalitas pada penduduk bukan-diabetik.
Terlepas dari kemajuan yang dicapai dalam perawatan, kehamilan yang disertai diabetes masih dipertimbangkan sebagai kondisi berisiko tinggi. Kondisi ini mencapai tingkat keberhasilan tertinggi jika ditangani dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli kebidanan, ahli endrokinologi, ahli neonatologi, perawat, ahli nutrisi, dan pekerja sosial. Untuk mencapai hasil akhir yang baik pada kasus kehamilan diabetik, dibutuhkan komitmen dan partisipasi aktif wanita. Ia harus mematuhi jadwal kunjungan prenatal yang sering, mematuhi program diet dengan ketat, melakukan dengan mandiri pemantauan kadar glukosa secara teratur, melakukan pemeriksaan laboratorium dengan sering, melaksanakan surveilen janin secara intensif, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan hospitalisasi.
Perawat, yang memberikan asuhan kepada wanita diabetik yang sedang hamil harus memiliki pemahaman yang benar tentang respons fisiologis normal terhadap kehamilan dan perubahan metabolisme akibat diabetes. Lebih jauh lagi, perawat harus memahami hubungan antara kehamilan dan diabetes sehingga perawat dapat dengan akurat mengkaji wanita, menyusun rencana untuk perawatannya, dan melakukan intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya. Perawat harus mengetahui implikasi-implikasi psikososial kehamilan diabetik sehingga ia dapat mengarahkan wanita dalam merencanakan, mengimplementasi, dan mengevaluasi perawatan wanita dan keluarganya.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari diabetes melitus gestasional?
2.      Bagaimana etiologi dari diabetes melitus gestasional?
3.      Apa saja tanda dan gejala dari diabetes melitus gestasional?
4.      Bagaimana patofiologi Nursing Pathway diabetes melitus gestasional?
5.      Apa saja klasifikasi diabetes melitus gestasional?
6.      Apa saja pengaruh diabetes melitus terhadap kehamilan?
7.      Apa resiko dan komplikasi pada ibu yang terkena diabetes melitus?
8.      Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada ibu hamil yang terkena diabetes melitus?
1.3  Tujuan masalah
Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan para mahasiswa mampu:
1.      Memahami definisi dari diabetes melitus gestasional.
2.      Mengetahui dan memahami etiologi dari diabetes melitus gestasional.
3.      Mengetahui tanda dan gejala dari diabetes melitus gestasional.
4.      Memahami patofiologi Nursing Pathway diabetes melitus gestasional.
5.      Mengetahui saja klasifikasi diabetes melitus gestasional.
6.      Mengerti pengaruh diabetes melitus terhadap kehamilan.
7.      Mengerti tentang resiko dan komplikasi pada ibu yang terkena diabetes melitus.
8.      Bisa membuat konsep asuhan keperawatan pada ibu hamil yang terkena diabetes melitus.



BAB II
KONSEP DASAR
2.1 Definisi Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Mellitus (DM) adalah  kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. DM merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai. Yang paling sering terjadi yaitu: diabetes melitus yang diketahui sewaktu hamil yang disebut DM gestasional dan DM yang telah terjadi sebelum hamil yang dinamankan DM pragstasi. Diabetes melitus merupakan ganguan sistemik pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak.Diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia atau peningkatan glukosa darah yang diakibatkan produksi insulin yang tidak adekuat atau penggunaan insulin secara tidak efektif pada tingkat seluler.(Bobak. Lowdermilk, Jensen.2004. Edisi 4 hal 699).
Diabetes melitus gestasional (gestational diabetes mellitus (GDM)) didefinisikan sebagai “intoleransi karbohidrat dengan berbagai tingkat keparahan, yang awitannya atau pertama kali dikenali selama masa hamil saat ini” (ADA,1990). Walaupun GDM umumnya hilang pada akhir kehamilan, ada kemungkinan besar GDM terjadi lagi pada kehamilan berikutnya (Jovanovic-Peterson, Peterson, 1992; Philipson, Super, 1989). GDM dialami oleh sekitar 2% sampai 6% seluruh wanita hamil dan bertanggung jawab terhadap 90%  kasus diabetes selama masa hamil (Radak, 1991; Siddiq, 1989). Faktor-faktor risiko klasik diabetes gestasional mencakup obesitas, riwayat diabetes dan dan makrosomia keluarga, dan riwayat obstetri yang buruk sebelumnya (Jovanovic-Peterson, Peterson, 1992).
Diagnosis GDM biasanya ditegakkan pada pertengahan semester kedua masa hamil. Seiring dengan peningkatan kebutuhan nutrisi janin selama trimester ketiga dan trimester kedua tahap lanjut, asupan nutrisi maternal juga meningkatkan kadar glukosa darah. Pada saat yang sama resistansi insulin juga meningkat akibat efek antagonis insulin pada hormon plasenta, kortisol, dan insulinase. Akibatnya, kebutuhan insulin maternal meningkat tiga kali lipat.Sebagian besar wanita hamil mampu meningkatkan produksi insulin untuk mengompensasi resistansi insulin dan mempertahankan normoglikemia.Apabila pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau jika insulin thdak digunakan dengan efektif, GDM dapat terjadi (Dickinson, Palmer, 1990).
2.2  Etiologi Diabetes Melitus Gestasional
Etiologi Diabetes Melitus menurut Kapita Selekta Jilid III, 2006, Yaitu :
1.      Faktor autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4.
2.      Genetik
Diabetes mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya menderita diabetes mellitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya bahkan cicit walaupun resikonya sangat kecil.
Secara klinis, penyakit diabetes melitus awalnya didominasi oleh resistensi insulin yang disertai defect fungsi sekresi. Tetapi, pada tahap yang lebih lanjut, hal itu didominasi defect fungsi sekresi yang disertai dengan resistensi insulin. Kaitannya dengan mutasi DNA mitokondria yakni karena proses produksi hormon insulin sangat erat kaitannya dengan mekanisme proses oxidative phosphorylation (OXPHOS) di dalam sel beta pankreas. Penderita diabetes melitus proses pengeluaran insulin dalam tubuhnya mengalami gangguan sebagai akibat dari peningkatan kadar glukosa darah. Mitokondria menghasilkan adenosin trifosfat (ATP). Pada penderita diabetes melitus, ATP yang dihasilkan dari proses OXPHOS ini mengalami peningkatan. Peningkatan kadar ATP tersebut otomatis menyebabkan peningkatan beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam ATP. Peningkatan tersebut antara lain yang memicu tercetusnya proses pengeluaran hormon insulin. Berbagai mutasi yang menyebabkan diabetes melitus telah dapat diidentifikasi.Kalangan klinis menyebutnya sebagai mutasi A3243G yang merupakan mutasi kausal pada diabetes melitus. Mutasi ini terletak pada gen penyandi ribo nucleid acid (RNA). Pada perkembangannya, terkadang para penderita diabetes melitus menderita penyakit lainnya sebagai akibat menderita diabetes melitus. Penyakit yang menyertai itu antara lain tuli sensoris, epilepsi, dan stroke like episode. Hal itu telah diidentifikasi sebagai akibat dari mutasi DNA pada mitokondria. Hal ini terjadi karena makin tinggi proporsi sel mutan pada sel beta pankreas maka fungsi OXPHOS akan makin rendah dan defect fungsi sekresi makin berat.
Prevalensi mutasi tersebut biasanya akan meningkat jumlahnya bila penderita diabetes melitus itu menderita penyakit penyerta tadi.
·      Kerusakan / kelainan pangkreas sehingga Kekurangan produksi insulin
Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas juga dapat menyebabkan radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi pankreas turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol tinggi dan dislipidemia dapat meningkatkan resiko terkema diabetes mellitus.
·      Meningkatnya hormon antiinsulin seperti GH, glukogen, ACTH, kortisol, dan epineprin.
·      Obat-obatan.
Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pankreas, radang pada pankreas akan mengakibatkan fungsi pankreas menurun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Segala jenis residu obat yang terakumulasi dalam waktu yang lama dapat mengiritasi pankreas.Contohnya Minum soda dalam keadaan perut kososng (misalnya stelah berpuasa atau waktu bangun tidur dipagi hari) juga harus dihindari. Sirup dengan kadar fruktosa tinggi, soda, dan pemanis buatan yang terdapat dalam minuman soda dapat merusak pangkreas yang menyebabkan meningkatnya berat badan, jika kebiasaan ini diteruskan, lama kelamaan akan menderita penyakit diabetes melitus. Penelitian membuktikan bahwa perempuan yang mengkonsumsi soda lebih dari 1 kaleng per hari memiliki resiko 2 kali terkena diabeters tipe 2 dalam jangka waktu 4 tahun kedepannya.
·      Wanita obesitas
Sebenarnya diabetes melitus bisa menjadi penyebab ataupun akibat. Sebagai penyebab, obesitas menyebabkan sel beta pankreas penghasil insulin hipertropi yang pada gilirannya akan kelelahan dan “jebol” sehingga insulin menjadi kurang prodeksinya dan terjadilah diabetes melitus. Sebagai akibat biasanya akibat penggunaan insulin sebagai terapi diabetes melitus berlebihan menyebabkan penimbunan lemak subkutan yang berlebihan pula.
2.3    Tanda dan Gejala Diabetes Melitus Gestasional
1.      Polyuria(banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
2.      Polydipsi(banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
3.      Polyphagia (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
4.      Penurunan berat badan, Kesemutan, gatal, Pandangan kabur, Pruritus vulvae pada wanita, Lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan diabetes melitus walaupun banyak makan akan tetap kurus.



2.5  Klasifikasi Diabetes Melitus Gestasional
Pada Diabetes Mellitus Gestasional, ada 2 kemungkinan yang dialami oleh si Ibu:
1.         Ibu tersebut memang telah menderita diabetes melitus sejak sebelum hamil
2.         Si ibu mengalami/menderita diabetes melitus saat hamil
Klasifikasi diabetes melitus dengan Kehamilan menurut Pyke:
1.      Klas I :Gestasional diabetes, yaitu diabetes yang timbul pada waktu hamil dan menghilang setelah melahirkan.
2.      Klas II :Pregestasional diabetes, yaitu diabetes mulai sejak sebelum hamil dan berlanjut setelah hamil.
3.      Klas III : Pregestasional diabetes yang disertai dengan komplikasi penyakit pembuluh darah seperti retinopati, nefropati, penyakit pemburuh darah panggul dan pembuluh darah perifer, 90% dari wanita hamil yang menderita Diabetes termasuk ke dalam kategori diabetes melitusgestasional (Tipe II).
2.6 Pengaruh Diabetes Melitus Terhadah Kehamilan
1.      Pengaruh kehamilan, persalinan dan nifas terhadap diabetes melitus
1.      Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes (diabetik).
2.      Diabetes melitus akan menjadi lebih berat karena kehamilan
2.      Pengaruh diabetes gestasional terhadap kehamilan di antaranya adalah :
1.      Abortus dan partus prematurus
2.      Hidronion
3.      Pre-eklamasi
4.      Kesalahan letak jantung
5.      Insufisiensi plasenta
3.      Pengaruh penyakit terhadap persalinan
1.      Gangguan kontraksi otot rahim (partus lama / terlantar).
2.      Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi.
3.      Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir mati
4.      Perdarahan postpartum karena gangguan kontraksi otot rahim.
5.      Postpartum mudah terjadi infeksi.
6.      Bayi mengalami hypoglicemi postpartum sehingga dapat menimbulkan kematian
4.      Pengaruh diabetes melitus terhadap kala nifas
1.      Mudah terjadi infeksi postpartum
2.      Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar
5.      Pengaruh diabetes melitus terhadap bayi
1.      Abortus, prematur, > usia kandungan 36 minggu
2.      Janin besar ( makrosomia )
3.      Dapat terjadi cacat bawaan, potensial penyakit saraf dan jiwa
2.7 Resiko dan Komplikasi Diabetes Melitus Pada Ibu
a.       Komplikasi pada Ibu
1.      Aborsi spontan terjadi lebih sering diantara wanita diabetik dan aborsi ini berhubungan dengan kontrol glikemia yang buruk pada saat konsepsi dan pada minggu-minggu awal kehamilan (Combs, Kitzmiller, 1991; Rosenn, dkk, 1991).
2.      Hipertensi akibat kehamilan (pregnancy-induced hypertension [PIH] atau preeklamsia terjadi dua kali lebih sering selama masa hamil diabetik.
3.      Hidramnion (polihidramnion), suatu kelebihan cairan amniotik sebesar 2000 ml, terjadi sekitar 10 kali lebih sering dalam kehamilan diabetik daripada dalam kehamilan bukan-diabetik.
4.      Ketoasidosis dapat mengancam kehidupan ibu dan janin.
5.      Hipoglikemia, terjadi pada enam bulan pertama kehamilan
6.      Hiperglikemia, terjadi pada kehamilan 20-30 minggu akibat resistensi insulin
7.      Infeksi saluran kemih
8.      Retinopati
9.      Trauma persalinan akibat bayi besar
b.      Masalah pada anak :
1.      Abortus
2.      Kelainan kongenital seperti sacral agenesis, neural tube defek
3.      Respiratory distress
4.      Neonatal hiperglikemia
5.      Makrosomia
6.      Hipocalsemia
7.      Kematian perinatal akibat diabetik ketoasidosis
8.      Hiperbilirubinemia
·         Tanda terjadi komplikasi pada diabetes melitus gestasional
1.      Makrovaskular: stroke, penyakit jantung koroner,ulkus/ gangren.
2.      Mikrovaskular: retina (retinopati) dan ginjal (gagal ginjal kronik), syaraf (stroke,neuropati).
3.      Koma: hiperglikemi, hipoglikemi, stroke




BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1.      Anamnesis
a.       Keluhan utama.
Mual, muntah, penambahan berat badan berlebihan atau tidak adekuat, polipdipsi, poliphagi, poluri, nyeri tekan abdomen dan retinopati.
b.      Riwayat kesehatan keluarga.
Riwayat diabetes mellitus dalam keluarga.
c.       Riwayat kehamilan
·         Diabetes mellitus gestasional.
·         Hipertensi karena kehamilan.
·         Infertilitas.
·         Bayi low gestasional age.
·         Riwayat kematian janin.
·         Lahir mati tanpa sebab jelas.
·         Anomali congenital.
·         Aborsi spontan.
·         Polihidramnion.
·         Makrosomia.
·         Pernah keracunan selama kehamilan.
2.      Pemeriksaan Fisik
a.       Sirkulasi
·         Nadi pedalis dan pengisian kapiler ekstrimitas menurun atau lambat pada diabetes yang lama.
·         Edema pada pergelangan kaki atau tungkai.
·         Peningkatan tekanan darah.
·         Nadi cepat, pucat, diaforesis atau hipoglikemi.
b.      Eliminasi
·         Riwayat pielonefritis, infeksi saluran kencing berulang, nefropati dan poli uri.
c.       Nutrisi dan Cairan
·         Polidipsi.
·         Poliuri.
·         Mual dan muntah.
·         Obesitas.
·         Nyeri tekan abdomen.
·         Hipoglikemi.
·         Glukosuria.
·         Ketonuria.
·         Kulit.
·         Sensasi kulit lengan, paha, pantat dan perut dapat berubah karena ada bekas injeksi insulin yang sering.
·         Mata.
·         Kerusakan penglihatan atau retinopati.
·         Uterus.
·         Tinggi fundus uteri mungkin lebih tinggi atau lebih rendah dari normal terhadap usia gestasi.
3.      Psikososial
·         Resiko meningkatnya komplikasi karena faktor sosioekonomi rendah.
·         Sistem pendukung kurang dapat mempengaruhi kontrol emosi.
·         Cemas, peka rangsang dan peningkatan ketegangan.
3.2    Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan  ketidakmampuan mencerna/menggunakan nutrien dengan tepat.
2.      Resiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa maternal, perubahan pada sirkulasi.
3.      Resiko tinggi terhadap cedera maternal berhubungan dengan perubahan pada kontrol diabetik, profil darah abnormal/anemia, hipoksia jaringan, perubahan respons umum.
4.      Kurang pengetahuan tentang kondisi diabetik, prognosis, dan kebutuhan tindakan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi, kesalahan informasi, kurang mengingat, tidak mengenal sumber informasi.
3.3 Rencana Asuhan Keperawatan
·         Diagnosa Keperawatan 1
Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan  ketidakmampuan mencerna/menggunakan nutrien dengan tepat.
Tujuan dan kriteria hasil:
·         meningkatkan 24-30 lb pada masa pranatal, atau yang tepat untuk berat badan sebelum kehamilan.
·         Mempertahankan glukosa darah puasa (FBS) antara 60-100 mg/dl, dan 1 jam postprandial tidak lebih dari 140 mg/dl.
Intervensi Keperawatan
Tindakan mandiri
1.      Timbang berat badan klien setiap kunjungan pranatal. Anjurkan klien untuk memantau berat badan secara periodik di rumah antara kunjungan.
R/: penambahan berat badan adalah kunci penunjuk untuk memutuskan penyesuaian kalori.
2.      Kaji masukan kalori dan pola makan dalam 24 jam
R/: membantu dalam mengevaluasi pemahaman klien tentang dan/atau mentaati aturan diet.
3.      tinjau ulang pentingnya makan dan kudapan yang teratur bila menggunakan insulin
R/: makan sedikit dan sering menghindari hiperglikemia postprandial dan ketosis puasa/kelaparan.
4.      Kaji pemahaman tentang efek stres pada diabetes. Berikan informasi tentang penatalaksanaan stres dan relaksasi.
R/: stres dapat meningkatkan kadar glukosa, menciptakan fluktuasi kebutuhan insulin.
Tindakan kolaborasi
5.      Rujuk pada ahli diet terdaftar pada diet individu dan konseling pertanyaan mengenai diet.
R/: diet spesifik pada individu perlu untuk mempertahankan normoglikemia dan untuk mendapatkan penambahan berat badan yang diinginkan. Pada penyuluhan mendalam menigkatkan pemahaman tentang kebutuhan sendiri dan mengklarifikasin kesalahan konsep, khususnya untuk klien dengan DMG.
·         Diagnosa Keperawatan 2
Resiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa maternal, perubahan pada sirkulasi.
Tujuan dan kriteria hasil
·         menunjukkan reaksi NST secara normal dan “oxytocin challenger test” (OCT) negatif dan/atau tes stres kontraksi (CST).
·         Mengalami term-penuh, dengan ukuran tepat terhadap usia gestasional.
Intervensi Keperawatan
Tindakan mandiri
1.      Kaji kontrol diabetik klien sebelum konsepsi
R/: kontrol ketat (kadar HbAlc normal) sebelum konsepsi membantu menurunkan resiko mortalitas janin dan anomali kongenital.
2.      Pantau tinggi fundus setiap kunjungan
R/: bermanfaat untuk mengidentifikasi pola pertumbuhan abnormal (makrosomia atau IUGR, kecil atau besar terhadap usia gestasi [SGA/LGA]).
3.      Berikan informasi tentang efek diabetes yang mungkin pada pertumbuhan dan perkembangan janin.
R/: pengetahuan membantu klien membuat keputusan tentang melaksanakan aturan dapat meningkatkan kerja sama.
4.      Tinjau ulang prosedur dan rasional untuk NST setiap minggu setelah gestasi minggu ke-30, NST dua kali seminggu setelah gestasi minggu ke-36.
R/: aktivitas dan gerakan janin merupakan pertanda baik dari kesejahteraan janin. Tingkat aktivitas menurun sebelum terjadi perubahan pada DJJ.
Tindakan kolaborasi
5.      Siapkan untuk ultrasonografi pada gestasi minngu ke-8, ke-12, ke-18, ke-28, dan ke-36 sampai ke-38 sesuai indikasi
R/: ultrasonografi bermanfaat dalam memastikan tenggal gestasi dan membantu mengevaluasi IUGR.
6.      Lakukan NST dan OCT/CST dengan tepat
R/: mengkaji kesejahteraan janin dan keadekuatan perfusi plasenta.
7.      Bantu dengan persiapan kelahiran janin per vagina atau melalui pembedahan bila hasil tes menandakan penuaan dan insufisiensi plasenta
R/: membantu menjamin hasil positif untuk neonatus. Insiden lahir mati meningkat secara bermakna pada gestasi lebih dari minggu ke-36. Makrosomia sering menyebabkan distosia dengan sefalopelvis disproporsi (CPD).
·           Diagnosa keperawatan 3
Resiko tinggi terhadap cedera maternal berhubungan dengan perubahan pada kontrol diabetik, profil darah abnormal/anemia, hipoksia jaringan, perubahan respons umum.
Tujuan dan kriteria hasil
·           mempertahankan normoglikemi, tetap normotensif
·           bebas dari komplikasi (mis., infeksi, pemisahan plasenta)
Intervensi Keperawatan
Tindakan mandiri
1.      kaji klien terhadap perdarahan vagina dan nyeri tekan abdomen
R/: perubahan vaskular yang dihubungkan dengan diabetes menempatkan klien pada risiko abrupsi plasenta.
2.      Pantau terhadap tanda dan gejala persalinan praterm
R/: distensi uterus berlebihan karena makrosomia atau hidramnion dapat mempredisposisikan klien pada persalinan awal.
3.      Minta klien memeriksa keton dalam urin setiap hari pada saat bangun dan bila jadwal masukan makanan terlambat
R/: ketonuria menandakan adanya kondisi kelaparan yang secara negatif dapat mempengaruhi perkembangan janin.
4.      Kaji dan tinjau ulang tanda dan gejala ISK pada klien
R/: deteksi awal ISK dapat mencegah pielonefritis, yang dianggap memperberat persalinan prematur.
Tindakan kolaborasi
5.      Pantau kadar glukosa serum setiap kunjungan
R/: mendeteksi ancaman ketoasidosis; menentukan waktu dalam sehari di mana klien cenderung hiplogikemia
6.      Kaji Hb/Ht pada kunjungan awal, kemudian selama trimester kedua dan pada term
R/: anemia mungkin ada pada klien dengan masalah vaskular
7.      Mulai terapi I. V. Dengan dekstrosa 5%; berikan glukagon S.C. bila klien dirawat di rumah sakit dengan syok insulin dan tidak sabar. Ikuti dengan pemberian susu skim dengan 8 oz bila klien mampu menelan
R/: glukagon adalah substansi alamiah yang bekerja pada glikogen hepar dan mengubahnya menjadi glukosa, yang memperbaiki status hipoglikemik. (catatan: glikosa hipertonik *(D50) diberikan I.V. dapat menunjukkan efek-efek negatif pada jaringan otak janin karena kerja hipertoniknya. Protein membantu mempertahankan normoglikemi melebihi periode waktu yang panjang).
·         Diagnosa Keperawatan 4
Kurang pengetahuan tentang kondisi diabetik, prognosis, dan kebutuhan tindakan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi, kesalahan informasi, kurang mengingat, tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan dan kriteria hasil:
·         Berpatisipasi dalam penatalaksanakan diabetes selama masa kehamilan.
·         Mengungkapkan pemahaman tentang prosedur, tes laboratorium, dan aktivitas yang melibatkan pengontrolan diabetes.
·         Mendemonstrasikan kemahiran memantau sendiri dan pemberian insulin.
Intervensi Keperawatan
Tindakan mandiri
1.      Kaji pengetahuan tentang proses dan tindakan terhadap penyakit dari klien/pasangan, termasuk hubungan antara diet, latihan, penyakit, stres, dan kebutuhan insulin
R/: klien dengan diabetes sebelumnya atau DMG berisiko terhadap ambilan glukosa yang tidak efektif dalam sel, penggunaan lemak/protein untuk energi secara berlebihan, dan dehidrasi selular saat air dialirkan dari sel oleh konsentrasi hipertonik glukosa dalam serum. Kehamilan mengubah kebutuhan insulin secara drastis dan memerlukan kontrol yang lebih ketat. Kontrol diabetes tergantung pasa klien/pasangan yang berperan aktif.
2.      Berikan informasi tentang cara kerja dan efek merugikan dari insulin. Bantu klien untuk belajar melakukan pemberian injeksi, pompa insulin, atau sprei nasal (teknik pengalaman) sesuai indikasi
R/: perubahan metabolik pranatal menyebabkan kebutuhan insulin berubah. Pada trimester pertama, kebutuhan insulin rendah, tetapi menjadi dua kali dan kemudian empat kali lipat selama trimester kedua dan ketiga.
3.      Jelaskan penambahan berat badan normal pada klien. Anjurkan klien memantau penambahan berat badannya sendiri dirumah diantara waktu kunjungan. Penambahan total pada trimester pertama harus 2,5-4,5 lb [1,1-2 kg] kemudian 0,8-0,9 lb/mgg [360-400 g/mgg] setelahnya
R/: pembahasan kalori dengan akibat ketonomia dapat menyebabkan kerusakan janin dan menghambat penggunaan protein optimal.
4.      Berikan informasi mengenai dampak kehamilan pada kondisi diabetik dan harapan masa datang.
R/: peningkatan pengetahuan dapat menurunkan rasa takut tentang ketidaktahuan, meningkatkan kemungkinan kerja sama, dan dapat membantu menurunkan komplikasi janin/maternal. Kira-kira 70% klien yang diagnosis DMG akan mengalami NIDDM dalam 15 tahun.




BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Diabetes melitus yang terj`di dan diketahuinya saat hamil, maka ini dinamakan dengan Diabetes melitus gestasional, sedangkan bila Diabetes melitus telah diketahui sebelum hamil, maka dinamakan Diabetes melitus pregestasi. Diabetes melitus yang terjadi pada ibu hamil dan diketahui saat hamil kemudian akan pulih kembali 6 minggu pasca persalinan, maka ini dinamakan Diabetes melitus gestasional, namun apabila setelah 6 minggu persalinan Diabetes melitus belum juga sembuh, maka ini bukannya diabetes Gestasional, tetapi Diabetes melitus. Dm gstasional perlu penanganan yang serius, karena dapat mempengaruhi perkembangan janin, dan dapat mengancam kehidupan janin kedepannya. sehingga perlu diberikan asuhan keperawatan secara professional terhadap ibu hamil dengan Diabetes melitus,  supaya tidak lagi terjadi berbagai komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan

4.2 Saran
Penulis berharap dengan makalah ini, semoga mahasiswa dapat mengerti bagaimana asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan Diabetes melitus, dan paham bagaimana patofiologi yang terjadi pada ibu hamil yang mengalami Diabetes melitus. sehingga bisa berpikir kritis dalam melakukan tindakan keperawatan.



DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1, 2001, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta.
Bobak, Lowdermik, Jensen. 2005. Buku ajar keperawatan maternitas edisi 4. EGC : Jakarta.
Doenges, E. Marilynn, Mary Frances Moorhouse. 2001. Rencana Perwatan Maternal / Bayi, Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien edisi 4. Alih Bahasa, Monica Ester, S.Kp. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar